Senin, 08 Maret 2010

That what friends are for

Keep smiling, keep shining
Knowing you can always count on me, for sure
That's what friends are for
In good times, in bad times
I'll be on your side forever more
Oh, that's what friends are for

Manusia emang gak pernah bisa hidup seorang diri. Sebagai mahluk sosial, semua orang ditakdirkan untuk mempunyai ketergantungan terhadap orang lain. Semua yang kita punya hari ini, pasti disebabkan karna campur tangan orang lain. Baju yang kita pakai, dibuat oleh buruh-buruh pabrik -yang kerjanya kadang tidak pernah mengenal kata cuti. Nasi yang kita makan tadi pagi, adalah hasil dari tangan-tangan terampil pak tani yang setia menanam padi walaupun hasil materi yang didapatnya mungkin hanya untuk bertahan hidup beberapa bulan ke depan. Mobil yang kita pakai untuk transport sehari-hari pun, tak lepas dari kepintaran orang-orang Jepang dan Eropa yang 'iseng' kepikiran buat mobil yang ngeluarin air, bukannya asap :D
Kalau buat orang-orang tersebut - yang notabene gak kita kenal secara pribadi - kita bisa mengucapkan terima kasih atas keterlibatan mereka dalam hidup kita, apalagi dengan orang-orang yang kita kenal secara dekat. Baik teman, pacar maupun sahabat. Belum lagi orang tua kita masing-masing. Meskipun mereka-mereka ini (pasti) mendukung kita, namun gak kadang pula mencaci kita. Dan segala bentuk opini mereka, suka gak suka sangat berpengaruh terhadap jalan hidup kita.
Kalo sanjungan dan pujian yang mereka lontarkan, tentu bakal bikin hidup kita semakin berwarna, semakin cerah dan akhirnya akan membuat langkah kita sangat ringan dalam mengarungi hidup ini. Tapi kalo yang keluar dari mulut-mulut mereka adalah cacian, kritikan - yang negatif - tentu bakal bikin kita down. Bakal bikin hidup kita - untuk sementara waktu - terasa begitu suram. Kita kadang gak bisa terima apa yang namanya cacian atau kritikan.
Tapi kadang kritikan tu perlu kita dengar, karena bagaimanapun itu adalah cara pandang sahabat kita - orang terderkat selain diri kita - melihat pribadi kita. Tentu dengan cara penyampaian yang elegan. Tidak sekedar kritik yang absurd, yang tidak ada dasarnya.
Seperti hari ini, ketika seorang sahabat datang berkunjung. Ada rasa kesal dan kecewa ketika gua mendengar kritikan-kritikan yang dia lontarkan. Tapi ya gua hargai karena itu mungkin adalah cara pandang dia terhadap tingkah laku kita. Ya, kita mah gak bisa protes. Bebas dong dia mau ngomong apa, orang mulut-mulutnya dia koq. Tapi justru dengan kritikan-kritikan itu - yang setelah direnungkan emang kebanyakan benernya daripada salahnya :p - kita semakin tau batas-batas kemampuan kita. Kita semakin sadar bahwa kita juga punya kelemahan dan punya keterbatasan. Tinggal sekarang bagaimana kita menyikapinya.
Dia bilang gua orangnya gak teguh pendirian. Gua akui itu. Gua gampang banget goyah dengan apa yang gua yakini (kecuali soal iman!!) Pendirian gua gak bisa sekokoh pendirian gua sama agama yang gua yakini. Gua masih gampang tergoda dengan hal-hal lain yang membuat pendirian gua goyah. Baik dari omongan maupun dari tindakan orang-orang tersebut.
Tapi karna omongan sahabat gua, hari ini gua belajar sesuatu. DO SOMETHING BECAUSE YOU WANT TO, NOT BECAUSE OF EVERYBODY WANTS TO!!!!! Selama ini gua masih ngelakuin sesuatu karena gua pengen memenuhi harapan orang lain. Bukan karena gua pengen meraih itu untuk KEBAHAGIAAN gua pribadi. Bukan buat KEPUASAN gua sendiri. Capek sih emang kalo harus memuaskan semua orang. Gak akan sanggup, karena pasti setiap orang berbeda dalam pengharapan kepada kita.

Thanks for coming pal....